Skip to main content

Kuy lah Klik link dibawah, untuk curhat bareng Raiz

Demi kamu dan kebaikanmu


Aku sudah kenal kamu sejak lama, baik buruknya kamu dan semua hal tentangmu. Semanya kita jalanin bersama dulu. Tapi ada saat aku ingin sendiri, kenapa? Apkah karna bosan, atau apa? Rasanya semuanya percuma saja kita jalani, ada sesuatu yang tidak mengenakkan hatiku. Aku harap kamu bisa melupakanku, demi kamu dan orang tuaku.

Bertahun kita berstatus dengan tanpa restu, apalagi yang harus kita perjuangkan? Oke.. aku turuti maumu, aku jalananin sesuai dengan kemauanmu, meyakinkanku bahwa hubungan ini akan baik-baik saja. Setelah hubungan dekat kita menjadi hubungan jarak jauh, kamu berubah. Seorang yang aku kenal dulu berubah menjadi sangat posesif dan protektif. Dengan segala keselah pahamanmu itu, kita akhirnya memutuskan untuk berhenti.

Lalu kenapa kamu datang setelah aku sudah nyaman dengan kesendirian ini? Dan ketika kedekatan kita dijalani dengan tanpa status, berjalan seperti angin yang tak tahu ingin kemana berhembus. Kamu tiba-tiba bertanya pertanyaan yang aku sendiri tak mampu untuk menjawabnya. Apakah aku salah dengan menggantungkan perasaanmu? Aku hanya tak ingin kamu lebih sakit ketika hubungan kita jauh lebih dalam dari ini, dan kita harus berpisah hanya karna restu yang tak kita miliki. Lupakan aku, lupakan kenangan kita, kamu bisa saja mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku diluar sana, kamu bisa saja meraih bahagia jauh lebih tinggi dari aku.

Bukannya aku tak ingin membersamaimu, tapi aku tak ingi mengecewakan orang tuaku, aku tak ingin melawan mereka hanya karna ego dan cinta. Aku juga sakit ketika kita harus berpisah dan memutuskan untuk berhenti, tapi apakah tidak lebih sakit lagi jika kita berjalan lebih jauh? Melompat jauh lebih tinggi? Atau berenang jauh lebih dalam lagi? Aku mohon kamu mengerti aku, karna aku melakukan ini sebagai wujud pengertianku padamu.

Request : A.andr’00

Karya : Raiz Muhammad

Comments

Popular posts from this blog

Batasku #2 end

            Dan benar saja, aku akhirnya tiba di batask, dimana perlakuanmu sungguh tak bisa aku tahan lagi, kekejaman macam apa yang berusaha kamu tunjukkan padaku? Sungguh inginkah kamu memperlihatkan kekejaman yang hewan sendiri mugnkin tak tega melakukan itu, tak sanggup melakukan itu. sunnguh sakit luar biasa sakit, bagaimana tidak disaat kamu menduakanku dengan tuduhan kearahku yang aku sendiri tak mampu menelan ludah saat mengetahui itu. ingin menangis rasanya saat aku menceritakan ini. Sunguh aku berada di tiitik terperih seumur hidupku. Perih sangat-sangat perih. Ketika kau menggoreskan tanganku dengan pecahan kata itu lalu kau siram tanganku dengan perasan kulit jeruk yang asamnya tak bisa ku bayangkan. Bisa kamu rasakan bagaimana rasanya? Ketikan air perasan asam itu jatuh di kulit masuk kedalam darah.. aarrghhhhhh membayangkannya saja sangat perih rasanya, bagaimana kalau kamu merasakannya senidir? Pasti lebih sakit d...

Kenapa harus aku yang menjaga jodoh orang?

Sepertinya lagu armada yang berjudul “harusnya aku” semakin marak dikalangan anak muda jaman sekarang, seiring banyaknya mereka yang ditinggalkan tanpa sebab ataupun ditinggalkan dengan sebab memilih untuk hidup bersama orang lain. katanya pilihan sendiri, dan ada juga yang bilang pilihan orang tua. Lantas untuk apa kita jalani kisah bertahun lamanya? Kita berjalan menemani hembusan angin, kehilir, kehulu, kita selalu mengikutinya, kemanapun angin itu membawa kita, suka duka, canda tawa semuanya berkumpul di rumah yang kusebut kenangan. Merancang masa depan, merencanakan pernikahan dan semua yang berkaitan dengan kita. Tapi kenapa jawabmu dia adalah pilihanmu? Kalau saja aku tahu lebih awal bahwa kamu adalah jodoh orang, mungkin kita takkan sejauh ini bukan? Lantas siapa yang tahu akan masa depan? pun tak semudah yang kita bayangkan untuk menjalani hubungan yang bertahun dan menahun. “Menjaga jodoh orang” kata yang tepat untuk kita para korban perjodohan mereka, menjaga, melindun...

kamu yang menghilangkan mereka perlahan

Kamu adalah orang yang membuatku hanya memiliki satu, semua hal yang dulunya ada kini hanya tinggal tentang kamu saja, setiap hari yang kita jalani hanya tentang kamu, seolah aku tak punya kehidupan lain selain kamu. Awalnya kita berjalan selayaknya orang yang saling mengerti keadaan satu sama lain, tak ada yang berbeda antara aku dan teman-temanku maupun kamu dan teman-temanmu, keegoisanmu perlahan muncul seiring waktu. Memang, kita di fasilitasi oleh orang tuamu, fikirmu dengan kemewahan yang ia berikan untukmu bisa menggantikan betapa keringatku untukmu? mengantarmu kesana kemari tanpa henti Mereka sudah lebih dulu dalam hidupku, lantas kenapa aku harus menurutimu dan membuatku jauh dari mereka? Malu, sangat malu rasanya ketika aku bukan siapa-siapa mereka selalu ada, namun ketika aku diberikan segala cinta darimu lantas membuatku lupa akan meraka? Tidak, ini bukanlah hal yang benar, aku tak bisa terus-terusan seperti ini, aku tak bisa terus-terusan menjadikan diriku berbe...