Aku tak tahu dimana aku menemukannya
yang jelas aku menemukannya pada saat aku diterjang ombak yang membingungkanku
bukan bingung mau kemana tapi bingung untuk menjauhinya
awalnya aku tak sadar jikalau ianya berharga
sampai pada akhirnya ombak pun pergi
bukan karna sesuatu itu ombak pergi
tapi memang suatu pilihan
ianya baru kusadari setelah sekian lama ku bersama
setelah ku memilih untuk pergi karna tak ada rasa didada
namun berbalik arah ketika ianya bersinar dari kejauhan
berkali-kali ku mencoba untuk meyakini diri
dan berkali-kali pula ku berhenti untuk meyakini
bukan soal siapa dan mengapa tapi bagaimana ianya begitu berbeda dengan yang lain
kucoba untuk yakin saat aku memandanginya lewat celah senyumnya yang menawan
terlihat ianya suatu pancaran kasih sayang yang ku ingini
kuutarakan apa yang digoreskan oleh hati
bermaksud hati dibalas hati
memang bukan terucap dari bibirnya
dan tak ingin ia ucapkan dengan bibirnya itu
bodoh sekali jika aku hanya menilai sebatas ucapan bibir belaka
yang ianya tak dapat ku tahu bahwa apa yang ia berikan itu lebih dari sekedar ucapan belaka
kecewa dengan hal sepele seperti itu, berkali-kali ku ingin berhenti
namun penjelasan yang diberikan berkali-kali membuat tamparan keras bagiku
satu hal yang membuat ku terharu
ketika ianya memberikan kasih sayang dan perhatiannya
"Marah lah padaku, kesal padaku, limpahkan kepadaku saat kamu ingin marah, saat kamu ada masalah, lempar semua kekesalan itu padaku jangan ke orang lain"
membuat semua masalahku hilang dengan ucapan itu.
sungguh perasaan yang luar biasa yang diberikan kepadaku
walaupun ianya berisaha untuk menutupi dan memilih untuk tak diucapkan
namun kini aku sadar bahwa cinta bukan soal ucapan yang menyenangkan hati tapi perlakuan yang menenangkan hati.
~Athar Al-Akhtar
yang jelas aku menemukannya pada saat aku diterjang ombak yang membingungkanku
bukan bingung mau kemana tapi bingung untuk menjauhinya
awalnya aku tak sadar jikalau ianya berharga
sampai pada akhirnya ombak pun pergi
bukan karna sesuatu itu ombak pergi
tapi memang suatu pilihan
ianya baru kusadari setelah sekian lama ku bersama
setelah ku memilih untuk pergi karna tak ada rasa didada
namun berbalik arah ketika ianya bersinar dari kejauhan
berkali-kali ku mencoba untuk meyakini diri
dan berkali-kali pula ku berhenti untuk meyakini
bukan soal siapa dan mengapa tapi bagaimana ianya begitu berbeda dengan yang lain
kucoba untuk yakin saat aku memandanginya lewat celah senyumnya yang menawan
terlihat ianya suatu pancaran kasih sayang yang ku ingini
kuutarakan apa yang digoreskan oleh hati
bermaksud hati dibalas hati
memang bukan terucap dari bibirnya
dan tak ingin ia ucapkan dengan bibirnya itu
bodoh sekali jika aku hanya menilai sebatas ucapan bibir belaka
yang ianya tak dapat ku tahu bahwa apa yang ia berikan itu lebih dari sekedar ucapan belaka
kecewa dengan hal sepele seperti itu, berkali-kali ku ingin berhenti
namun penjelasan yang diberikan berkali-kali membuat tamparan keras bagiku
satu hal yang membuat ku terharu
ketika ianya memberikan kasih sayang dan perhatiannya
"Marah lah padaku, kesal padaku, limpahkan kepadaku saat kamu ingin marah, saat kamu ada masalah, lempar semua kekesalan itu padaku jangan ke orang lain"
membuat semua masalahku hilang dengan ucapan itu.
sungguh perasaan yang luar biasa yang diberikan kepadaku
walaupun ianya berisaha untuk menutupi dan memilih untuk tak diucapkan
namun kini aku sadar bahwa cinta bukan soal ucapan yang menyenangkan hati tapi perlakuan yang menenangkan hati.
~Athar Al-Akhtar

Comments
Post a Comment