wanita itu
memandang kearah lelaki yang berada di ujung kelas yang tengah bising, berharap
rasa yang dititipkan tak pernah missing, padahal wanita itu sudah lama
mengenalnya dengan nama teman, tapi hari itu berbeda dengan timbulnya angan.
Kadang, aku merasa kamu juga memandangku demikian, dan kadang aku justru tak
merasa demikian. Sangat sulit untukku menerjemahkan engkau dengan nama rasa,
mungkin karena kita sudah terbiasa dengan nama teman tersebut, makanya jika
berdalih dengan nama rasa, sulit sekali untuk di cerna.
Ketahuilah,
ketia ia yang kamu cinta adanya didepan mata, aku merasa ada hal aneh yang
menimpa, entah itu cemburu atau hasrat ingin cepat-cepat berlalu, kenapa aku
terlambat sadar, bahkan setelah cintamu terlanjur pudar, perubahanmu justru
membuatku sulit untuk melupakanmu, walaupun aku tahu kau lebih memilih dia
ketimbang aku. Mungkin salahku ketika aku menentangmu dengan ego ku, amarah
yang ku peralat untuk menutupi semua rasa yang bukan sesaat. Aku cemburu dan
aku benci, kujadikan alasan pertemananmu dengan mereka sebagai wadah untukku
luapkan kekesalanku terhadapmu.
Aku ingin
melupakanmu, tapi aku tak bisa begitu saja mengubur perasaan yang sudah lama
aku rawat, bahkan tampa kau tau sedikitpun itu, perasaan yang ku pendam
sendirian dengan kesunyian. Tapi setelah ku fikir dengan namamu yang telah
terukir, maka aku putuskan untuk tak lagi menitip rasa kepadamu, karena begitu
sakit rasanya terus-terusan diam dalam kelam, tampa adanya cahaya darimu, aku
ini wanita, tak mungkin aku yang lebih dahulu mengutarakan itu kepadamu,
yasudahlah, aku tak ingin membahas ini lagi, aku tak ingin memikirkan ini lagi,
kuanggap enggau benar-benar tak ada rasa, sama sekali.
Wanita
itu lebih memilih berjalan dengan jalan yang diambilnya sendiri tampa
mengharapkan rasa yang dulu pernah ia titipkan, sadarlah wahai hawa, bahwa kamu
pantas diperjuangkan oleh lelaki manapun, bukan tak mungkin mereka yang diluar
sana lebih mengharapkanmu dibandingkan dia, kamu hanya perlu membuka hati untuk
meraka tampa harus engkau menerka-nerka seperti dahulu kala. Percayalah kamu
lebih dari apa yang kamu sangka-sangka.
Request : RF98
Karya : Raiz

Comments
Post a Comment