Aku pernah
memilihmu dan meninggalkan dia, tapi mengapa kau balas aku dengan cobaan?.
Dulu, kamu menjemputku dari sebuah cinta yang sebenarnya aku sudah nyaman dengannya,
seseorang yang begitu baik dan sabar menghadapi semua sikapku. Aku merasa bodoh
meninggalkannya demi kamu, sedang kamu memperlakukan aku sama seperti aku
memperlakukan ia dahulu. Aku memberinya sakit begitupun denganmu, juga
memberiku sakit seperti itu. Aku seperti melihat perbuatanku sendiri pada
dirimu. Karma, menghampiri.
Kita telah
lalui semuanya bersama, sakit demi sakit kurasakan karna ulahmu, karna ulahku.
Aku dulu jalan denganmu berlalu di depannya, kan kamupun begitu, jalan berdua
dengan wanita lain dan berlalu didepanku. Sungguh rasanya sakit seperti ditikam
senjata sendiri. Aku pernah menduakannya, namun kini kau yang menduakanku,
heeii... bukankah kau yang merebutku darinya? Lantas kenapa kau membuatku malah
menderita. Kau yang menariku dari cinta itu, tapi kenapa kau malah memberiku
luka?
Aku menyesali
perbuatanku dulu, apakah aku masih pantas menerima cinta? Aku yang kuat
bertahan untukmu bertahun lamanya, aku yang tegar menerima semua kecuranganmu
dengan sabar. Dan kinipun aku masih ingin bertahan dikala orang tuamu
meimilihnya dibandingkan aku. Lantas untuk apa perjuangan ini? Kamupun tak
biasa memperuangkanku dihadapan mereka, lalu kenapa aku harus terus-terusan
berjuang dan menahanmu untuk tetap disini? Sedangkan orang tuamu sudah memilih
dia untuk um. Aku benar-benar tak bisa lagi berkata apa-apa. Aku ini seorang
wanita, lantas mengapa aku yang seolah-olah mengemis cinta? Jangan menggangguku
lagi, pergi.... pergilah dengannya untuk apa memanggilku, untuk apa
membersamaiku sedangkan orang lain yang akan hidup denganmu?
Aku tahu, tak
mudah untuk melupakan semua yang kita lakukan bertahun itu, tapi aku tak
melihat kesungguhanmu untuk bisa mempertahankanku, semuanya tergantung pada
orang tuamu, lantas mengapa tak berjuang saja meyakinkan orang tuamu? Jangan
terus merayuku sedang yang mempersalahiku ianya orang tuamu sendiri. Pergilah,
orang tua tidak akan mengecewakan anaknya, begitupun orang tuaku.
Request : Ar98
Karya : Raiz Muhammad

Comments
Post a Comment