Salahkah wanita
menyukai lelaki duluan? Mereka bilang kodratnya wanita itu menunggu, bukan
mencari apalagi memperjuangkan lelaki. Tapi apakah aku salah ketika aku
menyukai ia yang membuatku berjuang untuk mendapatkannya? Jatuhkah harga diriku
ketika aku memperjuangkan lelaki yang aku suka? Aku rasa tidak, kalian hanya
terlalu megikuti gengsi, memberi makan ego, seolah kehormatan wanita bisa jatuh
ketika seorang wanita itu menaruh hati pada lelaki.
Aku melihatnya
bukan hanya semata karna tampang nan rupawan, tapi jauh lebih dalam dari itu,
ia bagai hembusan angin dengan butiran embun yang menyejukkan, membuat hati ini
damai jika berada dekat dengannya. Membuat mata ini tak ingin beranjak dari
tatapan kearahnya.
Mendekatinya
bukan berati aku yang akan mengutarakan rasa kepadanya, yang kulakukan hanyalah
membuatnya suka padaku, itu saja. Kata salah seorang teman dikelasku, “menyukai
seseorang bukan berarti kita yang mesti menyatakan cinta kepada lelaki, banyak
jalan menuju roma” itu katanya, yaa.. begitulah caraku mendapatkannya, dengan
membuatnya jatuh hati padaku, hingga aku tak perlu repot-repot berjujur
terlebih dahulu.
Bukankah aku
yang mencintainya? Tapi malah pada akhirnya aku yang membuatnya menjauh dan
menghilang. Mungkinkah satu kesalahan ini membuatmu ingin membalasku? Saat itu,
pacaran denganmu mungkin terasa sangat membosankan bagimu, pasalnya tak pernah
ku penuhi keinginanmu bahkan hanya untuk mengobrol saja denganmu. Berbohong
adalah senjata utamaku untuk menghindarimu, entah kenapa tak ingin saja rasanya
berduaan denganmu apalagi harus berboncengan, malu rasanya dengan diriku
sendiri.
Tapi setelah
kamu meninggalkanku, malah aku yang tak bisa lupa denganmu, penyesalan mungkin
selalu terjadi belakangan, tapi bukankah seharusnya kita tak perlu menyesali
apapun? Setelah komitmen yang kitabuat itu, kamu memintaku untuk tak
menghubungiku satu bulan ini, tugas negarakatamu. Yaa.. tentu saja aku akan
memaklumi itu, karna aku akan mempercayai apa yang bisa aku percayai saat itu.
namun ternyata setelah sebulan berlalu kamu tak kunjung menghubungiku. Dan
begitu ringan lidahmu berucap bahwa kita sudah usai sebulan yang lalu,
bagaimana maksudmu? Aku tak mengerti. Katamu untuk tak menghubungimu dalam
tugasmu itu, adalah kata putus bagimu? Aneh rasanya, mungkin kamu harus memperbaikui
tata bahasamu, agar aku bisa mengerti setiap apa yang kamu ucapkan itu.
Raiz Muhammad | B@_00

Comments
Post a Comment