Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2019

Kuy lah Klik link dibawah, untuk curhat bareng Raiz

Jangan Menggangguku

Aku pernah memilihmu dan meninggalkan dia, tapi mengapa kau balas aku dengan cobaan?. Dulu, kamu menjemputku dari sebuah cinta yang sebenarnya aku sudah nyaman dengannya, seseorang yang begitu baik dan sabar menghadapi semua sikapku. Aku merasa bodoh meninggalkannya demi kamu, sedang kamu memperlakukan aku sama seperti aku memperlakukan ia dahulu. Aku memberinya sakit begitupun denganmu, juga memberiku sakit seperti itu. Aku seperti melihat perbuatanku sendiri pada dirimu. Karma, menghampiri. Kita telah lalui semuanya bersama, sakit demi sakit kurasakan karna ulahmu, karna ulahku. Aku dulu jalan denganmu berlalu di depannya, kan kamupun begitu, jalan berdua dengan wanita lain dan berlalu didepanku. Sungguh rasanya sakit seperti ditikam senjata sendiri. Aku pernah menduakannya, namun kini kau yang menduakanku, heeii... bukankah kau yang merebutku darinya? Lantas kenapa kau membuatku malah menderita. Kau yang menariku dari cinta itu, tapi kenapa kau malah memberiku luka? Aku me...

Bertahan atau udahan?

Hai, apa kabar? Sudah lama aku tak mendengarkan kabarmu disini, sejak kejadian waktu itu yang bahkan aku pertaruhkan semuanya untukmu. Kamu tahu? Sampai saat ini aku masih rindu akan dirimu. Kamu yang aku anggap beda dari lelaki yang pernah ku kenal dulu, kamu yang aku anggap tak ada sesiapapun yang menyamai sosokmu dimataku. ternyata sama saja, kamu dan mereka hanya bisa menyakiti dan menumbuhkan luka. Kala itu, ketika kamu ditimpa musibah aku bela-belain untuk datang ke kotamu tempat kamu dirawat dirumah sakit itu. Bahkan aku tinggalkan semua pekerjaanku, semua kewajiban dan tanggung jawabku untuk bisa hadir disampingmu saat masa-masa kritismu. Tapi apa yang aku dapat? Malah sekarang hatiku yang kritis. Kamu tahu? Kenapa aku tetap bertahan setelah apa yang aku lakukan untukmu dan apa yang kau berikan padaku? Aku dengan egoku, keras kepalanya aku masih tetap berharap dengan segala pengharapan yang ku tanamkan untuk hubungan kita. Tapi, hati kecilku selalu berbisik Buat apa ka...

Cukup kamu dan waktu, jangan aku

Ini adalah kali ke sekian aku menulis tentang kisah long distance relationship atau hubungan jarak jauh, bahkan ada yang tak pernah ketemu sama sekali namun mereka bisa menjalani hubungan pacaran dengan saling percaya. Aku sungguh kagum dengan mereka, yang mampu mencurahkan cinta kasih walaupun dengan via whatsapp saja. Bertemu ditempat temanku, sekilas tak kupandangi wajahnya, ku anggap biasa karna memang tak ada yang spesial darinya. Kala itu, aku sedang menjalankan sebuah hubungan dengan seseoang dikota tempatku kuliah. Namun seiring berjalan, laki-laki yang bertemu denganku yang bukan siapa-siapa malah semakin dekat waktu kewaktu. Kami saling bertukar cerita tentang hubunganku dengan lelakiku dan tentangnya dengan wanitanya. Sungguh tak ada niatku untuk memandang kearahnya. Aku butuh dia, saat aku benar-benar kehilangan semua harapan dunia yang fana ini. Aku butuh dia saat aku benar-benar terpuruk dengan jalan hidupku sendiri. Aku butuh dia saat aku ingin meluapkan sem...

Nyaman atau cinta?

Apakah menurutmu, aku punya perasaan yang sama denganmu? Aku sudah pernah bilang ke kamu, jangan terlalu mengharapkanku, karna aku tak mungkin bisa keluar dari traumaku yang dulu. Saat harapan laki-laki itu kandas oleh orang tuaku yang tak merestui kami. Aku tak mungkin bisa lupa dengan wajahnya waktu itu, sungguh aku tak ingin memaafkan diriku sendiri. Aku bukannya tak ingin keluar dari semua ini, aku hanya tak ingin mengulang masa kelam itu dan terjatuh jauh lebih dalam lagi melukai hatiku lebih parah lagi, membusuk tanpa siapun yang tahu. Bukankah cinta untuk bahagia? Tapi mengapa malah sakit yang kurasa? Bahkan aku tak tahu apa yang kurasakan. Aku tak tahu bagaimana perasaanku padamu yang bahkan aku tak pernah bertemu bertatap muka. Bukankah cinta itu berawal dari mata? Lalu turun kehati? Aku bahkan tidak bisa melawati dan menikmati proses itu. Nyaman? Atau cinta? Apakah bisa disamakan? Nyaman tanpa cinta atau cinta tanpa kenyamanan? Semuanya hanya tinggal pertanyaan-perta...

adakah kamu mencintaiku?

Aku pernah kehilanganmu sebab aku tak cepat mengambil keputusan kala itu, apakah aku gagal? Tidak, aku ingin tetap memperjuangkanmu, meskipun ia yang engkau terima dahulu masih melekat dihatimu, aku tak tahu itu. Sekarang, aku justru takut kehilanganmu untuk kedua kalinya, karna sekarang ada yang harus ku perjuangkan terlebih dahulu, memperjuangkan amanah yang diberikan. Sungguh, aku tak ingin mementingkan urusan pribadi diatas kepentingan kelompok, namun saat sendiri yang terbayang hanya wajahmu, terbayang wajahmu yang seakan di ambil kembali oleh orang lain. adakah kamu mencintaiku? Adakah sudi kamu menunggu dan berdiam disitu? Ketakutanku yang aku sendiri menilainya tak wajar, kerna jika benar cinta ianya engkau takan berpaling. Temanmu pernah bilang padaku, untukku nyatakan saja semua yang aku rasa, namun hati ini takut, takut kamu benar-benar tak ada rasa. aku butuh dekat denganmu, aku butuh semakin dekat denganmu untuk tahu semua isi hatimu, bukan ujuk-ujuk menyatakan ra...

Biarkan aku

Aku begitu mencintainya, sampai-sampai ku serahkan semua cinta yang kupunya. Semuanya kita lalui dengan tanpa dipaksa, bertahun lamanya aku menjadi orang yang begitu hanyut dalam cinta bahkan dengan segala sikapku yang menurutku engkau takkan tahan akannya, tapi kamu mampu bertahan sejauh itu, aku bahkan tak membalas cintamu setahun lamanya, tapi kamu tetap berdiri tegap disampingku memperlihatkan semua perjuangan dan cinta yang kau punya. Aku sangat bersyukur bisa dimiliki kamu, orang yang mampu bertahan dengan sifatku yang demikian tak dapat diterka, kamu mengerti aku, mengerti perasaanku, bahkan aku tak sadar pernah meneteskan air mata yang begitu deras mengalir, terdiam tanpa bicara, saat kau marah padaku dan menyiksa dirimu sendiri, aku terdiam didepanmu, kubiarkan airmataku membasuhi lantai kelas waktu itu, sangat terluka rasanya melihatmu demikian itu, hatiku hancur, remuk rasanya kau sakit karnaku. Aku begitu mencintaimu, lalu kau berdiri mengusap air mataku, bukannya men...

untukmu yang menangis malam itu

Aku mengenalnya, lebih dari yang dia kira, bahkan jauh lebih dalam dibandingkan sahabatnya sendiri, yang jauh lebih dulu mengenalnya, dia tertawa di depan mereka namun menangis didepanku, dia terlihat bahagia didepan mereka namun meluapkan segala kesedihan dibahuku. Ia begitu naif bersembunyi di balik jenaka itu, seolah sedang tak melalui rintangan apapun, namun begitu rapuh dengan derai air matanya itu, menangislah, sampai engkau benar-benar merasakan kesedihan itu, ucapku malam itu. Ia perlahan meneteskan air matanya, terdiam lalu menggumam, perlahan semua kesakitan, kepedihan keluar melalu air mata dan lisannya, aku terdiam mendengarkan semua itu, benar-benar tak mampu berucap layaknya air dikolam itu yang berhenti beriak, hening tampa sedikitpun suara yang keluar dari mulutku. Semua yang ia alami sekarang sama seperti yang ku alami dulu, seperti aku sedang melihat diriku sendiri dimasa lalu, ingin ku peluk ia dan berkata, kamu kuat. Sentak air mataku ikut mengalir kala itu,...

Cinta bukan satu-satunya

Berada di antara dua pilihan, dua hati yang perlahan mendekat, secara bersamaan, sungguh merupakan hal yang sangat membingungkan. Pria yang sudah lama mengejarku, namun entah mengapa aku tak sedikitpun menaruh hati padanya, tapi aku sungguh kagum dengan perjuangannya. Pria lainya, sudah menjadi milik orang lain, namun ada rasa yang berbeda jika dekat dengannya, ia memberiku waktu untuk menyelesaikan masalah itu pada pasangannya untuku. Bukankah cinta itu kejam? Ketika ego mulai menguasai berdalihkan atas nama cinta, semuanya dilakukan demi cinta, tak mahu tahu siapa yang terluka dan siapa yang tersiksa. Padahal aku pernah di posisi wanita itu, wanita yang akan ditinggalkan pria itu demi aku, lalu apakah ini sebuah dendamku untuk pria yang dulu meninggalkanku? Tapi mengapa aku harus membalasnya dengan wanita lain? dia salah apa padaku? Sungguh aku tak mampu lagi berfikir jernih akan hal ini. Padahal aku sendiri tau, jika aku memilih pria ini, yang meninggalkan kekasihnya demi a...

Beri aku waktu

Mengapa merasa hampa padahal telah bersama? Mengapa sepi kurasa padahal ramai nyatanya? Banyak masalah diantara kita yang tak seharusnya kita persalahkan. Bukan kita yang tak satu, hanya saja hati dan fikiran yang belum menyatu untuk satu. Ayolah... hubungan kita milik berdua, bukan kesendirian sahaja. Aku hanya tak bisa membangun sebuah menara dengan satu tangan sahaja, kamu mengerti kan maksudku? Aku memang belum mencintaimu sepenuhnya, bukan kerana masalalu, tapi masalah waktu, waktu untuk memanjat menara yang kita bangun itu, beri aku waktu. Jangan hempaskan aku jika aku belum tiba dipuncaknya dengan waktumu, karna aku pun punya waktuku sendiri. Bersabarlah, dan jangan menyuruhku untuk menyerah begitu saja. Mencintai bukan hanya tentang cinta itu sendiri, tapi juga suka duka, sabar dan percaya. Sabar menghadapi dan melalui msalah yang kita persalahkan dan saling percaya kepada pasangan, bukan kepada para penerkayang hampir membuatmu celaka, mereka hanya bisa melihat luarny...