Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2019

Kuy lah Klik link dibawah, untuk curhat bareng Raiz

Salahku karna tak memahami mereka

Megertilah, aku baik-baik saja saat menceritakan ini padamu, bukan bermaksud mengingat hal yang telah lama kita sudahi, namun aku hanya tak bisa terus-terusan memikirkannya seorang diri. kamu begitu baik padaku, kamu membantuku disaat aku benar-benar butuh. bukan kah aku yang kejam? Meninggalkanmu, bahkan disaat semua yang sudah kita jalani bersama, bahkan disaat kau kehilangan orang terhebat dalam hidupmu, yaitu orang yang membesarkanmu. Aku lantas pergi dengan memutuskan hubungan yang kita jalin dulu, meski tak tampak jika dibaca, namun nyata bila dirasa. kamu sudah seperti sahabat bagiku, kamu juga seperti kakak untukku, dan aku terlanjur mencintaimu. Jika kamu beranggapan aku yang kejam, sadarlah, bukan mudah untukku merelakan hati kepada seseorang lalu kutarik kembali ketika aku benar-benar sudah nyaman.   aku harus resign dalam dunia kerja, dan aku juga resign dari dunia cinta. Kamu sempat meyakinkanku tentang hubungan ini, tapi aku sudah mencobanya, aku juga sud...

Seperti senja namun mencengkam

Mataku tak lagi mampu memandang jauh, nafasku tak lagi seleluasa biasanya, sesak, dan penuh dengan debu menyebalkan, debu dan asap yang membuat kami semua hampir mati dibuatnya. Sungguh negriku sedang bersedih, dimana banyak orang-orang yang tak sadar bahwa membakar hutan adalah tindakan yang merugikan banyak orang, menyiksa ibu pertiwi. Aku heran apakah mereka sama sekali tak punya paru-paru untuk menghirup asap dan debu itu? Apakah mereka dan keluarga mereka seperti robot yang tak perlu bernafas? Aku tak tahu siapa yang salah dalam hal ini, mereka yang serakah akan materi dunia, atau kami yang tak bisa melindungi negri sendiri, atau bahkan mereka yang jauh disana yang tak memperhatikan kami? Entah lah, aku sama sekali tak tahu akan semua itu. Langit berubah menjadi oranye, memerah, seperti senja namun mencengkam, seolah seperti wanita yang sedang marah, pipi memerah, namun tidak ada yang peduli dengan amarah itu.   mahu berapa lama negriku bertahan seperti ini? Aku takut...

Aku berhenti berharap

wanita itu memandang kearah lelaki yang berada di ujung kelas yang tengah bising, berharap rasa yang dititipkan tak pernah missing, padahal wanita itu sudah lama mengenalnya dengan nama teman, tapi hari itu berbeda dengan timbulnya angan. Kadang, aku merasa kamu juga memandangku demikian, dan kadang aku justru tak merasa demikian. Sangat sulit untukku menerjemahkan engkau dengan nama rasa, mungkin karena kita sudah terbiasa dengan nama teman tersebut, makanya jika berdalih dengan nama rasa, sulit sekali untuk di cerna. Ketahuilah, ketia ia yang kamu cinta adanya didepan mata, aku merasa ada hal aneh yang menimpa, entah itu cemburu atau hasrat ingin cepat-cepat berlalu, kenapa aku terlambat sadar, bahkan setelah cintamu terlanjur pudar, perubahanmu justru membuatku sulit untuk melupakanmu, walaupun aku tahu kau lebih memilih dia ketimbang aku. Mungkin salahku ketika aku menentangmu dengan ego ku, amarah yang ku peralat untuk menutupi semua rasa yang bukan sesaat. Aku cemburu dan a...

Nun jauh disana

Maukah engkau menunggu dalam keheningan? Menghangatkannya dengan segala doa dan pengharapan, memeluknya dengan kepercayaan. Maukah engkau bersabar dalam kesendirian? Dibalik sunyi yang menemani, seperti nun jauh disana, engkau sulit ku gapai dengan angan sahaja, tak mampu tanganku hadir membelai rambutmu bak benang sutra itu, tak mampu tanganku mengusap air matamu nan berharga itu, dan tak mampu memeluk tubuhmu nan lemah akan dunia itu. Selalu ku kirimkan doa melalui sepertiga malamku, dikala banyaknya pasang mata yang terlelap, aku diam-diam bangun dan mendoakanmu. Maukah engkau berdiri tegap dalam penantian? Yang akupun tak tahu entah sampai kapan, berdoalah kepada yang maha kuasa, yang maha cinta, pemilik segala cinta, moga dipertemukan-Nya kita dalam pertemuan yang sudah ditetapkan, dalam indahnya sebuah penantian. Maukah engkah menjaga hatimu untukku? Seperti nun jauh disana, tak bisa ku tahu apa yang tengah dikau lakukan, sangat sulit mataku untuk melihatmu jauh disana. ...

Didalam dada yang menggebu-gebu

Malam itu, aku bercerita dengan seniorku, tentangmu yang selalu membuat dadaku menggebu-gebu. Seorang wanita yang berhasil merampas segenap cinta yang ada, mengalihkan pandanganku terhadap siapa saja, menjadikannya setia memandang parasmu saja. Kamu tahu? Apa yang selalu ingin aku capai saat ini? Yaa, aku ingin mencapai cinta yang sulit aku gapai itu. Bukan cinta sesaat yang aku rasakan, bukan pula cinta yang baru ku pertahankan, tapi jauh sebelum seseorang itu mengutarakan. Aku kalah cepat darinya waktu itu, ketika aku sibuk meyakinkan hati, memberanikan diri dan menunggu waktu yang pantas, lantas ia dengan tegas menyatakan cinta. Aku kalah cepat waktu itu, dia yang lebih dulu membuatmu nyaman dengan sejuta angan, yang aku sendiri tak tahu wujud keberadannya sebelum ini. Aku menyimpan semua rasa kecewa itu dengan tetap mempertahankan cinta. Aku yang keras kepala menunggumu, memendam semua rasa dengan bermodalkan percaya. Kini, aku kembali dengan rasa yang dulu pernah ada, den...

Kisah akan berawal, Kasih akan berakhir

Jika kita bisa mengawali kisah, mengapa kita tak mampu mengakhiri kasih? Itulah yang terbesit dihatiku ketika aku mulai mengikhlaskanmu, aku bisa saja mengawali kisah baru bersama siapapun, tampa harus membanding-bandingkan dengan kisahmu dulu, bersamaku. Karna kisahmu dan kisahku, kini sudah menemukan jalannya masing-masing, dan kisah kita hanyalah kasih yang ku akhiri. Bukan tidak mungkin suatu saat kisahmu akan mengingatkanku akan satu hal, satu hal yang menjadikanku seperti saat sekarang ini, aku tak tahu aku harus berterimakasih kepadamu atau tidak, karna kamu sudah banyak memberikan kebahagiataan pada ku saat kita bersama dulu. Banyak hal yang kamu ukir dalam hidupku, namun banyak hal juga yang kamu renggut dari ragaku, ya .. kebahagiaan itu tak lagi kumiliki, kau bawa pergi berjuta rasa yang dulu kunikmati. Hal itulah yang mendidikku untuk tidak bermain dengan yang namanya cinta, trauma dalam yang ku alami bertahun-tahun membuatku sangat berhati-hati dalam mengucap kalima...

Mungkin berat bagimu, begitu juga denganku

Apakah kamu pernah bertanya bagaimana keadaan hatiku untuk mempercayaimu? Sungguh banyak yang aku pertimbangkan saat ini, bukan hanya tentang perasaanku terhadapmu, tapi juga persetujuan orang tuaku menerimamu, orang tua mana yang mau melihat anaknya sengsara, orang tua mana yang mau menjatuhkan anaknya sendiri? Tentu tidaklah ada yang demikian itu. Tapi bukankah kebahagiaanku, tergantung diriku sendiri? Begitulah kata pujangga yang sedang jatuh cinta, tapi aku berusaha untuk berfikir secara logis, yang tidak menentang akal sehatku sendiri. Aku pernah berfikir bahwa ucapmu waktu itu hanya sebatas kata belaka, pasalnya kamu datang tiba-tiba lalu menghilang begitu saja, bukankah aku butuh kepastian akan sebuah rasa? Aku tak tahu harus percaya atau tidak tentang sebuah penantian dalam diam yang berbuah dalam, berharap berakhir dengan bahagia. tapi aku memerlukan kata agar tidak berujung sia-sia, bukan untuk siapa-siapa, tapi untukku dan diriku sendiri, agar aku bisa meyakin...

Luka dan tangismu

Pergilah, teriakan amarahmu, luapkan semua kekesalananmu, jangan jadikan dirimu terbeban akan menahan semua beban itu. Karna dirimu pantas untuk bahagia, lebih dari yang kamu bisa, ceritakan kepada langit itu, apa yang menjadikanmu begitu bersedih. Sebuah kekecewaan, takan mampu menghilangkanmu, walau beribu kali kau merasakan sakit yang sama, bukan berarti kau jatuh, hanya saja belum ada yang benar-benar mampu memahamimu seutuhnya. Pergilah, teriakan amarahmu, semua lukamu, dan semua tangismu yang berada jauh dimasalalumu yang kurang berpihak terhadapmu. Bukan kamu yang sulit untuk dimengerti, hanya saja mereka yang belum bisa memahamimu, memahami sesosok yang begitu indah dan sempurna. Kamu pernah bertanya padaku, akankah ada lelaki yang akan duduk didepan ayahmu, bermaksud untuk menjadikan anaknya sebagai pelengkap hidupnya, belahan jiwanya. Kamu begitu khawatir akan ketetapan tuhan yang sudah digariskan untukmu, bahkan saat pertama kali engkau melihat dunia ini. Terlihat jela...