Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2019

Kuy lah Klik link dibawah, untuk curhat bareng Raiz

Batasku #2 end

            Dan benar saja, aku akhirnya tiba di batask, dimana perlakuanmu sungguh tak bisa aku tahan lagi, kekejaman macam apa yang berusaha kamu tunjukkan padaku? Sungguh inginkah kamu memperlihatkan kekejaman yang hewan sendiri mugnkin tak tega melakukan itu, tak sanggup melakukan itu. sunnguh sakit luar biasa sakit, bagaimana tidak disaat kamu menduakanku dengan tuduhan kearahku yang aku sendiri tak mampu menelan ludah saat mengetahui itu. ingin menangis rasanya saat aku menceritakan ini. Sunguh aku berada di tiitik terperih seumur hidupku. Perih sangat-sangat perih. Ketika kau menggoreskan tanganku dengan pecahan kata itu lalu kau siram tanganku dengan perasan kulit jeruk yang asamnya tak bisa ku bayangkan. Bisa kamu rasakan bagaimana rasanya? Ketikan air perasan asam itu jatuh di kulit masuk kedalam darah.. aarrghhhhhh membayangkannya saja sangat perih rasanya, bagaimana kalau kamu merasakannya senidir? Pasti lebih sakit d...

Yang dulunya aku sebut cinta #1

Benarkah cinta bisa melakukan segalanya? Disaat mereka yang menyerahkan segalanya demi cinta? Lantas kenap cinta berbuat demikian? Tidak kurasa bukan cinta yang melakukannya. Tapi mereka yang licik dan ingin memanfaatkan cinta sebagai bahan dan alasan mendapatkan segalanya. Aku Aidil, aku orang yang cuek akan cinta. Susah jatuh cinta namun ketika sudah cinta akan susah bagiku untuk melupakan ataupun melepaskan. Bagaimana tidak, kamu yang berkali-kali menyakitiku, menduakan dan mengecewakanku, tapi aku tetap bertahan. Mengapa? Cinta jawabku. Sebesar itukah cintaku? Disaat aku sudah tahu semua keburukanmu malah aku masih bisa berbicara kalau itu adalah cinta? Banyak hal yang aku pungkiri tentang kamu, semuanya aku tepis dengan kata cinta, ya cinta, selalu tentnag cinta dan jawabnya hanya cinta. Kata orang kita tak boleh menyukai seseorang dengan terlalu karna sakitnya pun akan terlalu pula. Iya, namun bahagianya juga sama-sama terlalu. Semenjak awal kita sebenarnya sudah dib...

Bisakah aku kembali? Ke masa itu

Masa kecil bagi sebagian orang mungkin adalah masa terbehagia dalam hidup. Pasalnya mereka merasa bisa melakukan apa aja tanpa memikirkan apa akibat dari tindakan itu. seperti bermain di sungai, berlarian disawah atau mengejar layangan sampai kaki tersangkut di pagar kawat yang merobek kaki. Mereka hanya menangis sebentar dan berlari lagi, tau bahkan tak menangis sama sekali. Sesederhana itukah masa kecil itu. yang ada hanya menangis sedikit dan tertawa banyak. Namun bagi sebagiannya lagi, masa kini lah yang paling membahagikan, mereka bisa kemana-mana tanpa harus merepotkan orang lain, bebas kemana-mana, mau beli ini, itu, menikmati ini, itu. liburan kesana kemari. Dan serasa hidup adalah milik sendiri saja. Namun ada saatnya duka menghampir keduanya. Saat kecil kita akan menangis karna semua hal yang kita inginkan harus seizin orang tua, tapi bukankah saat dewasa juga sama? Saat kecil kita memang tak memikirkan apapun yang membebani. Tapi bukan berarti ketika dewasa kita se...

Siapa yang salah? aku, kamu atau dia?

Dulu, aku pernah bercerita tentang apa yang mengganggu pikiranku dalam hubungan ini. Tak cukup sampai disitu ceritaku, maka ini akan berlanjut ketika mungkin aku salah mengambil keputusan membuka hati untuk seseorang yang aku sendiri belum begitu yakin sebenarnya. Lalu ketika ia sudah mengajakku ke jenjang yang lebih serius, aku harus apa? Huuufttt... Setelah bercerita panjang denganmu diwaktu yang dulu, aku bercerita dengan beberapa temanku, berharap mendapatkan jawaban dari apa yang sedang aku alami. Ada yang bilang untuk jalani saja sampai hubungan ini benar-benar menemui jalan buntu, lantas aku harus kemana setelah itu? seolah aku harus menggunakan naluriku saja saat itu terjadi. Ada juga yang bialng untuk berhenti saja, karna tak ada gunanya aku menjalani hubungan yang orangtuanya sendiri sudah tak menyukaiku, dan bahkan sangat menyukai dia yang pernah kamu pilih itu bukan? Tapi rasanya aku tak bisa begitu saja meninggalkan kisah yang telah lama itu. Ada satu yang membua...

Wanita Penyihir

Mengapa begitu sakit disini? Baru kali ini aku merasakan rasa sakit yang begitu dalam. Serasa semua hujatan duri ini menusuk menembus dadaku. Ada apa dengan diriku? Tak pernah aku merasakan rasa ini sebelumnya, apakah aku sedang jatuh cinta? Atau kecewa dengan cinta? Seorang anak kecil itu, bekerja menjual setumpuk kue tradisional khas Kerinci, Jambi. Entah untuk apa ia bekerja, sedang orang tuanya tak pernah menyuruhnya untuk itu. jika ditanya, ia pun tak tahu jawabannya, yang jelas ia selalu bersemangat kala mengelilingi kampung itu dengan menggendong tas berisi kue itu. ia bernyanyi, meloncat-loncat dan berteriak untuk mendagangi dagangannya. Karna asik berdagang, anak kecil itu terlambat menikmati masa kecilnya, ketika anak umur 13 tahun sibuk dengan cinta monyet mereka, ia bahkan sibuk dengan dunia anak-anak yang tak sempat ia cicipi itu. ia bermain bola dari kaleng, bermain kelereng dan juga bermain kejar-kejaran dengan anak-anak yang jauh dibawahnya. Ketika beranjak...

Jika ada yang membuatmu tak nyaman, katakan!

Katamu, kita tak perlu membahas masalalu, karna ianya telah berlalu. katamu kita hanya perlu membicarakan masa depan karna ianya menjadi angan dan pengharapan. Jika semua itu benar, lantas untuk apa kamu pergi kesana untuk mencari-cari kesalahanku? Pergi kemasalalu yang aku sendiri tak ingin berada didalamnya. Dulu, kita sempat sejauh matahari sebelum kita sedekat nadi. Masalah besar yang kita hadapi dulu, seolah tak ingin ku bahas sama sekali, tak peduli siapa yang salah dan siapa yang dipersalahkan. Aku hanya ingin kita baik-baik saja, supaya hubungan inipun tak kenal kata merana. Aku bosan jika harus mengingat masa-masa itu lalu kamu segenap emosi itu, melemparkan aku dengan kata-katamu itu. kamu berubah, tak sehangat dulu lagi. Kata mereka kenapa aku ingin bertahan? Sedang tak ada yang bisa dipertahankan padamu, tak ada yang bisa aku banggakan darimu. Kamu hanya seorang pecandu minuman yang bisa membuatmu lebih baik katamu. Kenapa aku tetap bertahan? Karna aku ingin bersa...

Kamu lucu, yah?

Kamu lucu yah? Ketika kita tak direstui kamu dengan tangguhnya berjuang untuk mempertahankan apa yang menjadi milik kita, kamu sibuk membuktikan kepada mereka bahwa kamu pantas ada. Namun sekarang kamu sibuk mencari yang belum ada. Katamu, kita tak boleh berpisah lantaran aku adalah pilihanmu. Katamu kita harus bertahan walau tak mudah menahan. Kita yang dulunya selemah kapas kamu perkuat sekuat baja. Kamu meyakinkanku atas segala cinta yang kamu miliki, semua keyakinan bahwa kita akan baik-baik saja, bersama selamanya. Kita jalani hubungan yang tanpa restu dari mereka, perlahan kamu perlihatkan diri membuktikan kamu layak berada disampingku, menjagaku. Kini, aku dan kamu diperbolehkan oleh orang tuaku menjalin hubungan asmara, memaniskan cinta menghangatkan asa. Apakah kamu senang dengan itu semua? Harusnya iya, tapi seolah kamu hanya senang berjuang. Ketika menang lantas kamu pergi meninggalkannya begitu saja. Seperti itukah sikap pejuang? Setelah membela negaranya mati-mat...

Aku memilih untuk pergi

Bukankah kamu berbadan kekar? Bukankah fisikmu itu kuat sekali? Tapi kenapa hatimu begitu lemah? Bahkan untuk mengambil kuputusan itu pun kamu tak berani. Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Hanya ingin bermain-main saja? Atau hanya sekedar mengisi waktu luangmu saja? Ayolah, di umur kita yang sudah semakin di dunia yang semakin ini, bukan waktunya lagi untuk bercanda bukan? Aku buth kepastian, supaya aku bisa tahu aku harus melangkah maju atau diam disini menunggumu. Kamu bahkan tak tahu aku harus menunggumu atau tidak, tapi kenapa tak kau biarkan saja aku melangkah? Begitu egois jalan pikiranmu itu. lihat aku, tidakkah kau ingin menghalalkan wanita yang sudah bertahun-tahun bertahan untukmu? Kita pernah tak di restui, namun kenapa kamu bertahan? Hal itu yang akhirnya membuatku bertahan juga. Kita pernah melewati masa sulit, lagi lagi kenapa kamu berahan? Hal itu juga yang membuat aku pun dengan kerasnya bertahan disini. Kita tak selalu bertemu, pikirmu enak aku yang selalu mera...

Aku baik, sedang kamu yang berlaku buruk

            Bisa-bisanya kamu bertanya hal itu, hal yang seharusnya tak kamu tanyakan lagi. “Kamu masih sayang aku?” Tanyamu dengan berbangga diri. Aku tak suka caramu menatapku, aku tak suka dengan apa yang telah kamu lakukan dimasalalu, tak cukupkah kamu menduakanku? Lalu kamu meninggalkanku tanpa kata. mengapa tak kau putuskan saja secara baik? begitukah cara seorang yang budiman bertindak? Pengecut sekali rasanya, kamu yang melangkah pergi seolah kamu tak pernah berada disini.             Fahmi, lelaki yang cukup menarik perhatianku akhir-akhir ini, lelaki tampan dan pintar dikelas, namun kelasnya berbeda dengan kelasku, jadi dia sering main kekelasku usai jam pelajaran pertama. Kami selalu duduk berdua dalam kelas waktu itu. eh kurasa bukan berdua, karna selalu ada pak wardi yang selalu mengawasi kami dari cctv itu, lucunya dia selalu bilang dari ruang cctv itu masuk...

Mencintaimu, tidaklah salah

            Da n pada akhirnya, kamu hanya jadi khalayan yang tak pernah aku wujudkan, tersimpan jauh didalam kenangan kebahagiaan yang pernah aku miliki, bukan memilikimu, tapi memiliki rasa terhadapmu. Bahagia yang aku rasakan bukan bahagia karnamu, tapi bahagia karna mencintaimu, memandangmu, salah tingkah bertemu kamu walaupun sebenarnya kamu hanya berjalan tanpa memandangku, dan lagi, jantungku berdegub kencang saat melihat senyummu, seolah aku sedang memandangi indahnya dunia seisinya, semua keindahan itu, ada pada senyummu.             Aku senang kamu anggap teman, bukan seorang yang kamu spesialkan, pun jika aku paksankan mungkin kamu sudah menjadi orang yang ingin aku lupakan, pasalnya kamu bukanlah orang yang mencinta karna dicinta, namun mencari dan menemukannya. Kamu pernah bertanya padaku waktu itu, dikala hati tak karuan menggandeng kebahagiaan tiada tara, b...

Kamu itu seperti mereka, tak mendengarkan tapi menyimpulkan

            Jika kamu ingin menjauh, maka menjauhlah dengan tanpa memberi jejak dihati, dengan segala amarah yang kamu punya. Bukan aku takut kehilangan, tapi aku takut akan permusuhan. Jika seandainya kita memang diharuskan demikian, aku hanya ingin kamu mempercayai satu hal, bahwa aku tak pernah sekalipun membohongimu dengan cara apapun. Jadi tolong, jangan cabut mahkota (percaya) itu dari diriku. Karna sungguh tanpa itu, aku akan terus bersedih dalam kesedihan.             Sikapmu mulai berubah semenjak kejadian itu, adakah kamu mengingatnya? Padahal jauh sebelum itu, kamulah yang berlari kearahku, tanpa aku suruh, tanpa aku panggil. Pun jika waktu itu, kamu tak berlari, aku tak akan tahu rasanya dikejar bukan? Lucu rasanya mengingat masa-masa itu, padahal temanku sangat tertarik akan semua yang ada di dirimu, seolah dia melihat semua keindahan yang kesemuanya tertuju ...

Mengejarmu, mengabaikanmu lalu mengharapkanmu (lagi)

Salahkah wanita menyukai lelaki duluan? Mereka bilang kodratnya wanita itu menunggu, bukan mencari apalagi memperjuangkan lelaki. Tapi apakah aku salah ketika aku menyukai ia yang membuatku berjuang untuk mendapatkannya? Jatuhkah harga diriku ketika aku memperjuangkan lelaki yang aku suka? Aku rasa tidak, kalian hanya terlalu megikuti gengsi, memberi makan ego, seolah kehormatan wanita bisa jatuh ketika seorang wanita itu menaruh hati pada lelaki. Aku melihatnya bukan hanya semata karna tampang nan rupawan, tapi jauh lebih dalam dari itu, ia bagai hembusan angin dengan butiran embun yang menyejukkan, membuat hati ini damai jika berada dekat dengannya. Membuat mata ini tak ingin beranjak dari tatapan kearahnya. Mendekatinya bukan berati aku yang akan mengutarakan rasa kepadanya, yang kulakukan hanyalah membuatnya suka padaku, itu saja. Kata salah seorang teman dikelasku, “menyukai seseorang bukan berarti kita yang mesti menyatakan cinta kepada lelaki, banyak jalan menuju roma”...

Kamu (Rindu) yang hadir dalam mimpiku

Kamu yang hadir dalam mimpiku saat aku rindu, Bukankah menyenangkan saat kamu bisa hadir dimimpiku setiap saat? Kita yang berawal dari ejekan teman-temanku ternyata menyimpan sejuta cerita dalam cinta. Kamu yang tak kusangka-sangka menyimpan cinta betahun lamanya, pada akhirnya pergi meninggalkan luka dan membiarkannya terbuka begitu saja, tanpa ditutupi dengan sekalipun kata maaf. Dulu, kamu menjadi orang yang selalu mendengarkan keluh kesahku dengan sang kekasih, begitupun kamu bercerita tentang dia yang menjadi pendamping hati kala itu, tapi bagaimana bisa timbul rasa dalam kecewa? Mungkin kita sama-sama bosan dengan kata demi kata yang menyambung luka dihati masing-masing dalam hubungan masing-masing. Hingga aku dan kamupun berjalan selayaknya sepasang hati beriringan. Betapa aku meyakini bahwa kamu adalah orang yang paling mengerti aku, bagaimana perasaanku, apa yang aku inginkan dan apa yang sedang aku fikirkan. Tak segampang itu bagiku mengerti bagaimana cara cinta itu...